STUDY TIRU DESA MENABUNG AIR KE TIGA KAMPUNG TEMATIK MALANG : SERAP INSPIRASI KELOLA AIR DAN SAMPAH

  • Apr 14, 2026
  • Erik Kurniawan

KIM Batorokatong, Malang – Sebanyak 40 peserta dari Desa Ngunut, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, menggelar kegiatan study tiru “Desa Menabung Air dan Tata Kelola Lingkungan” bersama Yayasan Menabung Air (Maesa Group) ke tiga kampung tematik di Kota Malang, Selasa (14/4).  

Rombongan terdiri dari unsur Yayasan Menabung Air Maesa Group, Pemerintah Desa Ngunut, BPD Desa Ngunut, Kelompok Tani Wanita, Komunitas Bank Sampah, para Ketua RW dan RT, serta masyarakat pegiat lingkungan. Kegiatan berlangsung sehari penuh mulai pukul 08.00 WIB.  

Rangkaian Kunjungan
Perjalanan diawali di Kampung Semar. Di lokasi pertama ini, rombongan mempelajari sistem konservasi air berbasis komunitas dan penataan lingkungan padat penduduk yang tetap asri. Peserta diajak melihat langsung penerapan biopori, sumur resapan, dan pemanfaatan air hujan untuk kebutuhan komunal serta pemanfaatan lahan terbatas untuk menunjang kehidupan rumah tangga perkotaan.

Usai dari Kampung Semar, rombongan melanjutkan kunjungan ke Kampung Wonosari. Di kampung yang dikenal dengan inovasi urban farming ini, peserta berdiskusi mengenai integrasi pengelolaan air dengan ketahanan pangan rumah tangga, mulai dari hidroponik lorong hingga kolam gizi.

Destinasi terakhir adalah Kampung Glintung Go Green (3G). Di kampung yang pernah menyabet berbagai penghargaan lingkungan ini, puncak acara digelar. Peserta mengikuti Kegiatan Edukasi dan Fun Game bertema lingkungan untuk membangun kekompakan, dilanjutkan Workshop Pengelolaan Sampah di Rumah Pintar Glintung Go Green. Materi workshop mencakup praktik pemilahan sampah dari sumber, pembuatan kompos, hingga model bank sampah yang bisa diadopsi di Desa Ngunut.

Kepala Desa Ngunut yang turut dalam rombongan menyampaikan bahwa study tiru ini menjadi bekal penting mewujudkan “Kampung Proklim", selain "Desa Menabung Air” di Desa Ngunut. “Tiga kampung ini membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan halangan. Kuncinya partisipasi warga dan konsistensi program. Ini yang akan kami adaptasi,” ujarnya.

Perwakilan Yayasan Menabung Air Maesa Group menambahkan, kolaborasi antar desa dan komunitas menjadi strategi mempercepat replikasi gerakan menabung air di berbagai daerah rawan kekeringan maupun daerah dengan drainase kurang baik.

Selepas seluruh rangkaian acara, rombongan menyempatkan mampir ke pusat oleh-oleh khas Malang sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Ponorogo pada sore hari.

Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik lanjutan gerakan Desa Menabung Air di Ngunut dan mewujudkan Kampung Proklim, dengan fokus pada konservasi air, penguatan bank sampah, dan pemberdayaan kelompok tani wanita serta RT/RW sebagai ujung tombak di lapangan.