Ruwatan, Lakon Wahyu Katentreman Digelar Pada Momen Bersih Desa
- May 26, 2024
- Erik Kurniawan
- Kecamatan Babadan, Info Desa Ngunut, Sejarah
KIM Batorokatong, Ponorogo - Pemerintah Desa Ngunut tahun ini menggelar even bersih desa dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat desa. Acara yang bertujuan sebagai ruwatan ini diawali dengan giat khataman Al Qur'an dan dipuncaki dengan gelaran Wayang Kulit dengan Lakon Wahyu Katentreman. Sebelum Ki Guritno Purbo Carito mementaskan lakon pangruwat, dalang cilik asli Desa Ngunut Ki Farel Jova Suwarna tampil sebagai pengisi pra acara dengan lakon Tetuko-nya.
"Iya, Hari Rabu kemarin kami Pemerintah Desa bersama dengan BPD dan panitia bersih desa melaksanakan acara Khotmil Qur'an, sedangkan acara wayang kulit malam ini merupakan acara puncak. Semua elemen masyarakat kami ajak untuk mangayubagya even bersama ini", ujar Siti Khotijah, Kepala Desa Ngunut.
Hadir dalam pagelaran wayang kulit Forkopimka, tokoh masyarakat, pimpinan ormas, hingga pengurus RT dan warga masyarakat tumplek blek memadati halaman Balai Desa Ngunut. Menutup rangkaian acara, digelar ruwatan hingga
Lakon Wahyu Katentreman sendiri, dipentaskan untuk menanamkan spirit keinginan Semar saat berperan menjadi perantara turunnya “Wahyu Ketenteraman”. Suatu kekuatan untuk menentramkan masyarakat, agar bekerja secara gotong royong mengembangkan program ketenteraman bagi rakyat. Satu hal yang cukup mencuri perhatian dalam kisah ini adalah diutusnya 3 putra Pandhawa yang terkenal sakti mandraguna dalam menyanggupi mempersiapkan 3 syarat yang diperlukan untuk memperoleh wahyu ini. Mereka adalah Raden Gatotkaca, Raden Antasena, dan Raden Antareja. Sebagaimana sifat anak muda yang penuh semangat dan idealisme dalam mengemban tugas, tekad yang teguh dan pantang putus asa membawa mereka mampu melewati semua ujian dan dinamika hingga berhasil mendapatkan apa yang diidamkan.
Spirit-spirit inilah yang sedianya patut untuk dicontoh dalam membangun desa. Mulai dari inisiasi seorang Ki Semar Badranaya, yang seorang jelata dan warga biasa untuk menjaga wilayahnya. Semangat kaum muda yang membara untuk bahu membahu membantu menunaikan hajat Ki Semar. Hingga partisipasi raja-raja untuk mengabulkan aspirasi kaum muda. Hanya dengan kolaborasi dan partisipasi berbagai elemen masyarakat, suatu cita-cita yang adiluhung nantinya akan tercapai dengan turunnya Wahyu Katentreman.
Acara dipungkasi dengan ruwatan yang dimulai pada pukul 03:00 dan paripurna pada pukul 05:00.