Kyai Imam Thoyib, Pemimpin 100 Pasukan Kavaleri era Perang Diponegoro

  • Aug 04, 2023
  • Erik Kurniawan
  • Sejarah

KIM Batorokatong, Ponorogo - Bagi kita yang berada di wilayah Mataraman, wilayah yang merujuk pada suatu wilayah kebudayaan di Jawa Timur yang meliputi bekas wilayah Keresidenan Madiun dan Kediri (wilayah yang pernah dikuasai oleh Kesultanan Mataram) tentu pernah atau sering menjumpai Pohon Sawo tua yang ditanam di depan rumah, pesantren atau bangunan tempat ibadah.

Namun, tahukah anda bahwa Pohon Sawo termasuk bagian dari sandi di dunia intelijen masa lampau? Ya, pohon sawo dulu pernah digunakan sebagai kode sandi rahasia oleh keturunan, pengikut Pangeran Diponegoro dan prajuritnya untuk menjalin komunikasi pasca diburu oleh pasukan kolonial Belanda. Para pasukan dan keturunan yang selamat pasca Perang Jawa 1825-1830 ini kemudian menyebar di berbagai pelosok Pulau Jawa, termasuk di wilayah Mataraman. Hingga tak ayal, berawal dari sebuah sandi rahasia, pohon sawo menjelma menjadi sebuah Simbol Santri dan Jaringan Diponegoro.

Terlepas dari keberadaan Pohon Sawo itu sendiri - sebagai petunjuk untuk mengidentifikasi jejak jejaring Pangeran Diponegoro di Pulau Jawa - di Desa Ngunut Kecamatan Babadan - Ponorogo terdapat sebuah makam yang dinamakan Makam Islam Ki Ageng Manthoyib Jogoragan. Nama ini merujuk pada nama Mbah Manthoyib (Kyai Imam Thoyib) yang dimakamkan di tempat itu. Makam ini cukup terkenal karena terdapat tepat di barat Tugu Banjir Desa Ngunut, persis di sebelah timur Sungai Bengawan. Menurut sejarah tutur yang beredar, Kyai Imam Thoyib adalah salah seorang komandan 100 pasukan berkuda (kavaleri) di era Pangeran Diponegoro dengan pangkat penatus. Pasukan kavaleri sendiri berperan sebagai satuan yang mampu bergerak dengan cepat dalam skala besar sekaligus berfungsi sebagai penyerang kejut atau pendobrak yang akan membuka jalan bagi pasukan infanteri.

Merujuk buku berjudul "Sejarah Lokal dan Tradisi Lisan tentang Babad Tempurejo Tempuran Paron Ngawi Jawa Timur" , karya Miftaqurrohman dan Nailiya Sa'idah, Ki Ageng Manthoyib atau lebih akrab disebut Mbah Manthoyib (Imam Thoyib) adalah Prajurit Pangeran Diponegoro dari Mataram. Beliau mulai bergabung pada tahun 1827 M. di Mataram. Beliau adalah putra Ki Nur Jaiman Karanglo Kota Gedhe Mataram (Yogyakarta), dan Ki Nur Jaiman adalah putra dari Ki Ageng Pitono Kembang Lampir.
Ki Ageng Pitono sendiri memiliki empat putra, yaitu Ki Nur Jaiman, Ki Nur Hamdan, Ki Nur Shidiq, dan Ki Nur Saed. Karena mereka termasuk pendukung dan pengikut Pangeran Diponegoro, mereka melarikan diri. Ki Nurjaiman dan Ki Nur Hamdan masih tetap di Mataram-
Yogyakarta, Ki Nur Shidiq ke kaki Gunung Lawu – ada yang mengatakan di daerah Kendal,Ngawi- , dan Ki Nur Saed ke Ponorogo lalu ke Melikan-Ngawi.

Pada awal mulanya wilayah tugas beliau di daerah Mataram, kemudian berpindah ke wilayah ke mancanegara wetan atau brang wetan tepatnya di Pacitan. Ketika Mbah Manthoyib berpindah ke Pacitan,
beliau bertugas mengamankan daerah brang wetan sebelah selatan. Karena jumlah pasukan dan fasilitas perang tidak sebanding dengan Belanda, akhirnya pasukannya dapat dikalahkan. Pacitan merupakan wilayah pertama yang mengalami kolonialisme di Karesidenan Madiun.

Meski belum jelas, apakah satu kompi pasukan kavaleri ini berada di Desa Ngunut hanya sekedar mampir atau memang memiliki markas disini. Yang jelas menurut cerita orang tua zaman dulu, di sebelah utara tidak jauh dari Makam Kyai Iman Thoyib terdapat kuburan kuda. Tepatnya di sekitar tempat yang dinamakan "Getek'an", sebuah tempat yang dulu ada sebuah getek (perahu bambu) untuk menyeberangi sungai.

Di zaman mutakhir ini, cerita sejarah yang diwartakan secara turun menurun tersebut tentu mewariskan ingatan betapa kuatnya semangat patriotik dan kepahlawanan seorang Pangeran di benak generasi masa kini. Sebuah desa kecil di belahan utara Kabupaten Ponorogo, ternyata juga menyimpan mozaik sejarah tentang keberperanan wilayah yang menjadi bagian dari kisah perjuangan Pangeran Diponegoro di era Perang Jawa. Mengenai keterkaitan tempat ini dengan kisah penyerangan Kadipaten Polorejo oleh Belanda karena informasi intelijen yang mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro bersembunyi di wilayah itu, perlu penelusuran sejarah lebih lanjut.

Sebuah hal yang pasti, pasca tertangkapnya Diponegoro, para lasykar santri dan ulama kemudian berdiaspora, menyebar ke berbagai wilayah dan mendirikan basis-basis perlawanan kultural dengan mendirikan masjid dan pesantren jauh dari tangsi tangsi Belanda. Jejaring Diponegoro inilah yang kemudian hari menjadi kekuatan dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesia, termasuk berperan dalam peristiwa perang 10 November yang dipicu oleh resolusi jihad KH Hasyim Asy'ari. Wallohu A'lam.