KOLOM : NGUNUT YANG BERJARAK

  • Mar 03, 2024
  • Frengki Nur Fariya Utama
  • Kecamatan Babadan, Sejarah

KIM Batorokatong, Ponorogo - Desa atau kota terpisah jarak. Jarak waktu tempuh, jarak informasi, jarak pendidikan, jarak jarak modernitas, dan segala macam jarak. Serupa jarak khayal kita dengan segala macam apa dan bagaimana Desa Ngunut dahulu ada. Lagi-lagi jarak memisahkan informasi kita dengan bagaimana kondisi dan perkembangan desa Ngunut sedari dulu hingga sekarang.


Untuk meretas jarak, kita bisa menemui catatan Ngunut dari buku "Babad Kandha Wahana 15 Desa, Kecamatan Babadan" yang ditulis Purwowijoyo 1991 silam. Dari buku tipis itu, kita mengenal nama Ngunut adalah dari nama sebuah pohon Ficus Glabella. Kayu bernama unut lalu disematkan sebagai nama desa Ngunut. Kayu unut atau di Bali berjuluk bunut, sejenis pohon beringin yang kerap hidup di pinggir sumber air atau beji. Menyoal beji atau sendhang atau belik, Purwowijoyo juga menginformasikan ada beji di Ngunut. Namanya beji Ngunut. Beji itu berada di pekarangan rumah lurah dhongkol (mantan lurah) Ahmad Rifa'i. Konon, tempat itu adalah hunian patih Polorejo yang bernama Noyomenggolo. Disebutkan oleh Purwowijoyo terletak di RT III, RW I, Ngunut III.  


Seperti yang dapat kita ketahui bersama, Ngunut merupakan bagian dari Kadipaten Polorejo yang salah satu bupatinya bernama Raden Tumenggung Brotonegara. Dalem Kadipaten Polorejo sendiri terletak di SDN 1 Polorejo, Jalan Srigading. Obrolan warung kopi mengatakan, tepat di sebelah barat SD tersebut merupakan tempat para kaum (pengurus) Bidang Agama Islam. Tak heran, nama padukuhan barat jalan raya menuju sekelip (Jl. Letjend Surapto Sukowati) itu bernama Kauman. Sebagaimana mafhum tata letak praja zaman dahulu, rumah Adipati terletak di utara alun-alun/pasar dan disebelah baratnya terdapat wilayah yang disebut Kauman. Kemungkinan besar, pasar kecil yang disebut "Ngarung" (masuk peta administratif Desa Polorejo) merupakan sisa-sisa dari alun-alun Kadipaten Polorejo zaman dahulu.


Cerita yang dituliskan Purwowijoyo itu mungkin memang telah berjarak. Banyak yang tak lagi tahu menahu, tak lagi kenal apalagi mengenal, tak lagi paham dan memahami, bahkan ogah mengulik lembar-lembar sejarahnya dan tak peduli lagi dengan cerita tutur maupun situs-situs peninggalannya. Maklum, karena memang sudah berjarak. Jarak sungguh mengasingkan kita dengan yang terdekat. Seperti gawai "Setan Gepeng", mmendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat!.


Boleh ditanyakan, untuk mengetahui berapa warga Ngunut yang mengetahui dari mana asal kata Ngunut. Pasti tidaklah banyak. Faktor yang menyebabkan lupa dan melupakan sangat bejibun. Utamanya memang dunia tak lagi mengajarkan pandang mendalam. Kita hanya di sodorkan untuk pandang meluas. Meretas dan menjelajah jarak yang dulu membatasi.


Sekarang saja warga Desa Ngunut bisa berkeliling dunia. Berimbas dengan kita mudah berlagak serupa kota atau negara lain. Bisa jadi kini banyak kita temui warga Ngunut yang ke-Jakarta-an, Ngunut yang ke-Inggris-an, Ngunut yang ke-Amerika-an, Ngunut yang ke-Arab-an, bahkan Ngunut yang ke-Korea-an. Karena informasi di dunia maya sangat mudah mengorek itu. Melupakan hal yang seyogyanya tidak kita lupakan.
Ngunut yang ngunut? entar dulu deh!


Masalahnya ada pada jarak informasi. Untuk mengetahui informasi nama Ngunut yang berasal dari nama pohon unut atau bunut saja terlampau syulit. Tahu bentuk pohonnya saja belum. Toh nyatanya pohon itu tak lagi ada di Desa Ngunut. Benar kan?

Meretas jarak ini sebenarnya paling mudah. Kita tinggal bermain simbol untuk memberi informasi. Bayangkan jika ada 2 atau lebih tempat yang memang dirawat untuk ditanami pohon unut/bunut untut menjaga warga tak melupakan desa. Hitung - hitung sekaligus melakukan gerakan penghijauan bumi yang sedang digalakkan akhir-akhir ini. Sejarah nama desa tetap terjaga, desa pun makin asri. 

Satu lokasi ditanamnya unut/bunut itu akan jadi panjang tangan sejarah desa. Dari sana, kita dapat bercerita banyak hal. Tempat itu akan menjadi informasi yang akan membantu generasi Ngunut kembali mengenal desanya. Kembali mendekap bumi pertiwi Ngunut. Dengan kepedulian yang lambat-laun akan timbul.


Dimana bekas beji atau bekas masa lalu lainnya yang simpang siur sayup-sayup dituturkan oleh beberapa tetua, bertahap bisa digali. Kita hanya perlu meretas jarak. Memberikan simbol informasi yang bisa diarahkan ke berbagai kanal lain. Berjarak untuk hening sebentar itu penting. Namun terlalu berjarak itu berbahaya dan membahayakan peradaban. Di momen haul Mbah Palang, peringatan pendiri dan pemimpin desa yang sedang dilaksanakan bulan ini, mungkin dapat menjadi awal untuk merintis apa yang perlu dirintis demi mengungkap jejak sejarah keberperanan dan kebijaksanaan masa lampau.